Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai mengganas dalam musim hujan ini.
Dalam sepekan terakhir, dampak gigitan nyamuk aedes agypti telah
merenggut tiga nyawa bocah di Kabupaten Sragen.
Serangan wabah DBD belakangan merenggut nyawa Kresna Rensi Prasetyo
(7), bocah asal Kampung Pecing RT 2, RW XIV, Sragen Tengah, Kabupaten
Sragen. Kresna meninggal tiga hari lalu, setelah mengalami demam tinggi
dan kejang-kejang. Diagnosa dokter rumah sakit menyatakan, bocah malang
itu meninggal karena terserang DBD.
Menurut penuturan orang tua, ketika awal sakit panas Kresna dibawa ke
Puskesmas. Hasil pengobatan kondisi panasnya tak kunjung turun. Karena
kondisinya semakin memburuk dan ditambah kejang-kejang, korban
selanjutnya dilarikan ke RSIA Sarila Husada Sragen.
Dari sana, lalu dirujuk ke RSUD dr Moewardi Solo. Baru beberapa saat dirawat, bocah itu akhirnya meninggal dunia.
Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
(P2PL), Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, Retno Dwi Kawurjan,
mengatakan berdasarkan laporan riwayat sakit, Kresna diketahui mengeluh
sakit demam, nyeri, dan kejang-kejang. ''Ini jelas indikasi sakit DBD,''
katanya, Jum'at (24/1).
Mengetahui kondisi demikian, DKK memerintahkan petugas untuk
melakukan fogging rumah Kresna dan seluruh rumah warga Kampung Pecing
sekitarnya. Tindak pengasapan dilakukan, kata Retno, utuk melokalisir
agar serangan DBD tak meluas. Soalnya, sepeninggal Kresna, terdapat
warga yang terkena demam lagi.
Kasus DBD juga dilaporkan menyerang beberapa warga Sambiduwur RT 24,
Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen. Korban bernama Sri Lestari (8) juga
dikabarkan meninggal dunia akibat terkena serangan demam.
Nasib sama, dialami Muhammad Shoyib (9), warga Dukuh Tewmpel, Desa
Nogosari, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, juga dilaporkan
meninggal setelah mengalami demam tinggi. Kendati belum ada diagnosis
dokter rumah sakit, pihak keluarga meyakini kalau Syoyib terkena DBD.
Kepala Puskesmas Sumberlawang, Siti Muntofiah, sudah mengambil
langkah kegiatan fogging terhadap lebih dari 50 kepala keluarga (KK) di
RT 3 dan 4, Dukuh Sendang Palang, Ngargotirto. Fogging dilakukan
menyusul kematian Qodri Mutmainah alias Ina (9).
Menurut Siti, keyakinan warga meninggal akibat DBD diperkuat hasil
Penelitian Epidemologis (PE) yang terdapat positif jentik didaerah
tersebut. Namun, untuk wilayah Dukuh Tempel, Ngargosari belum dilakukan
fogging, karena menurut rencana baru akan dilakukan PE belakangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar