Meski terlahir dari orangtua Muslim, Aisyah Kamiliya (31 tahun),
dibesarkan dalam lingkungan Katolik. Ia tak pernah mempertanyakan
agamanya sampai saat ia duduk di bangku SMA.
Liya, begitu ia kerap disapa, memilih untuk tetap berada dalam kelas
saat pelajaran agama Islam berlangsung. Meski sebagai non Muslim kala
itu, ia diperbolehkan meninggalkan kelas dan pergi ke perpustakaan
sekolah.
Ia melakukan itu selama tiga tahun selama bersekolah di sebuah SMA
negeri di Jakarta. Tiga tahun pula, ia bertanya dan berdiskusi dengan
sang guru agama Islam. Banyak hal-hal yang dianggapnya ‘perlu
diluruskan’ dari penjelasan materi pelajaran agama Islam yang ia
perhatikan dalam kelas.
Kesabaran guru-guru agama Islam mendengarkan debatnya terhadap Islam
membuat Liya tersentuh. ‘’Makin dalam ilmu Islam seseorang, mereka makin
sabar mendengarkan. Saya tidak dibantah saat mendebat, guru agama saya
malah merasa juga belajar dari saya,’’ tutur ibu tiga anak itu.
Kelas III SMA, Liya menjalani Ramadhan 2000 di kampung halaman
orangtuanya di Pulau Sikep, Kepulaun Riau. Liya juga mencoba ikut
berpuasa. Merasakan ketenangan, Liya akhirnya bersyahadat. Berislam di
kampung halaman orangtua tak serta merta membuat keislaman Liya
diterima.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar